Di sela-sela study saya di Ireland tahun ini, saya menyempatkan diri trip ke beberapa negara Eropa demi menuntaskan rasa penasaran saya akan Eropa. Well, in 40 days trip, I am happy to say that I’ve visited 9 extraordinary countries and 15 enormous cities. Pengalaman yang tak henti-hentinya saya syukuri karena diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki dan menghirup wangi Eropa. Dalam posting kali ini saya bakal share negara dan kota mana yang menjadi favorit saya dan tentunya ingin saya kunjungi kembali di kesempatan yang akan datang (colek-colek suami).
Bagi Anda yang berencana berkunjung ke benua Eropa tapi kebingungan mau pilih negara atau kota yang mana untuk dikunjungi, saya bakal share kota favorit versi saya. Karena ada 28 negara yang sangat beragam nuansa dan sejarahnya, hal ini pastinya membingungkan Europe newbie (seperti saya misalnya) sehingga ada baiknya menentukan beberapa saja secara spesifik namun menikmatinya secara maksimal. Percayalah, lompat negara 1 ke negara yang lain sangat melelahkan. Jangan bayangkan semacam lompat ke kereta Senja Solo dan berakhir di Jawa Tengah. Levelnya lain, bung! Karena kalau bicara Eropa, Anda tidak hanya berpindah dari 1 tempat ke tempat yang lain tapi pastinya melewati border/imigrasi, belum lagi penyesuaian bahasa, makanan, mata uang, dll. So, here we go. Don’t waste your time planning if you plan to be failed 🙂
1.Paris, France
Siapa yang tak ingin berkunjung ke Paris? Hampir semua orang yang saya kenal bilang ‘aku pengen banget ke Paris’ atau ‘mau banget liat Eiffel’ atau ‘pengen denger orang ngomong Perancis yang seksi banget’. Well, untuk saya Paris menjadi satu kota yang merupakan top of my bucket list when I visit Europe and somehow I really fall in love with this city. Kota Paris menurut saya indah banget dengan suasana kota, bangunan dan orang-orangnya yang secara sukses membentuk kombinasi yang sempurna untuk didatangi. Bagi pecinta bangunan tua dan museum-museum, tidak ada habisnya daftar kunjungan di kota ini. Mulai dari Musee de Louvre, Notre Dame Cathedral, Sorbone University, Versailles hingga icon kota Paris yang begitu terkenal yaitu Eiffel Tower menjadi tujuan banyak orang. Berlama-lama memandangi arsitektur bangunan, draperi gorden yang menua, goresan lukisan mahakarya seolah-olah membentuk jiwa saya yang nggak paham seni mendadak menjadi romantis. Tapi buat saya semuanya indah atau indah banget. Indah yang bikin bengong atau bahkan ngences berkepanjangan. Kalau bisa saya bawa pulang cuilan-cuilan tembok Versailles dalam kantong saya tapi yasudahlah…


Bagi Anda yang suka belanja, deretan pertokoan besar di Champs Elysees, Galeri Lafayette, hingga deretan pertokoan kecil yang ada di sepanjang Marais yang merupakan touristy street, Rue de Marseille atau Rue de Charonne yang menawarkan butik-butik lokal cantik atau bagi Anda pecinta vintage stuff meluncurlah ke Rue Tiquetonne. Siapa yang tak kenal Paris sebagai gudangnya fashion? Berpuas-puaslah karena stock fashion yang menurut saya selalu unik di sini dan harga yang relatif murah. Oiya, bagi Anda yang ingin melakukan big shopping, bisa berkunjung ke La Vallee Village yang merupakan sebuah pusat pertokoan dengan barang-barang branded berharga miring. Bahkan mereka meng-claim bisa menawarkan harga lebih murah minimal 30% dari RPP. Woowww banget khan???
Bagi pecinta makanan? Udah deeeh..sebut apa yang nggak bisa dimakan sambil berdecak di sini. Waffel pinggiran jalannya saja menurut saya enak banget (iya..saya emang murahan..) apalagi yang sekelas restoran Michelin star yang saya ngintip menunya saja nggak berani. Beberapa makanan yang wajib dicicip di Paris menurut saya adalah berbagai pastry-nya mulai dari croissant dan sweet bakery lainnya, waffel, pancake, crepes (pleaseeee jangan lewatkan makan crepes di Paris…) dan ngopi di cafe Paris yang ada di pojokan jalan bertenda merah. Iya…romantis banget khaan?? Sambil menatap orang-orang berdandan menarik bergandengan tangan menyusuri jalanan Paris ditiup semilir angin. Aduuuhh..udah deeh..jadi kepengen kesana lagi khaaan?? (mau mau mau…)

2. London, UK
“London..London..ingin kukesana..” -London, The Changcutter-
It’s a dream come true. Londoooonnn… saya rasanya pengen berteriak keras-keras waktu menginjakkan kaki ke kota yang selama ini hanya ada dalam mimpi saya. Semua sudut, tolong dicatat, semua sudut merupakan favorit saya. Sulit sekali menentukan mana yang menjadi favorit saya selama sekitar 2 minggu saya tinggal di London (thanks to adek Farih yang bersedia menampung saya). Dan, masih belum semua spot berhasil saya kunjungi. Nikmatnya berkunjung lama-lama di sebuah kota atau negara (menurut saya) adalah Anda bisa menemukan grocery, coffee hingga book shop favorit. And indeed, I felt like Londonian (biar senada dengan Parisian *grin*) and somehow I enjoyed it like A LOT 😀

Well, kalau diharuskan bikin list daftar objek wajib kunjung di London saya tentu tidak bisa tidak menyebutkan British Museum. Museum ini gilaaaa bagus banget, bagi pecinta museum saya rasa butuh 3 hari untuk menghayati museum yang super besar ini. Saya stay 1 hari disana dan masih belum bisa menjelajah setengahnya :O Tentunya masih ada National Gallery, Science Museum, Albert & Victoria Museum, dll. yang bisa dikunjungi but for me British Museum is the most incredible one.
Selain itu, London juga terkenal akan landmark-nya seperti Tower of London, Big Ben, Westminster Abbey, London Eye, Buckingham Palace, Arsenal Stadium, etc. yang cakep banget lah buat foto-foto. Tentunya kalau ada budget berlebih boleh banget masuk ke dalamnya (ehmm..jangan contoh saya yang cukup puas berfoto di depan landmark saking kerenya). Oiya, saya pecinta istana-istana indah di berbagai negara dan di hampir setiap negara atau kota saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke dalamnya walaupun ticket admissionnya mahal atau antriannya bikin sedih saking panjangnya but in the end it was worth the wait. Sayang beribu sayang, ketika akan berkunjung ke Buckingham Palace (iya berkunjung masuk ke dalam bukan foto-foto doang) ternyata ada jadwal khusus kunjungan di bulan tertentu dan pada bulan itu ditutup. Sediiiih ya khan padahal saya berniat nengok eyang Elizabeth 😦 Nah, bagi yang berencana ke London dan berkunjung ke Buckingham kindly check this website yaaa https://www.royalcollection.org.uk/visit/the-state-rooms-buckingham-palace

Bagi pecinta film, sebutkan film favorit Anda dan kunjungi lokasinya. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Inggris, bulu kuduk saya merinding mengingat disinilah tanah kelahiran Sherlock Holmes dan Harry Potter. Saya rasanya ingin mengaum keras-keras (super lebay). But indeed, salah satu yang paling menarik untuk saya adalah berkunjung ke Sherlock Holmes museum di 221B Baker Street dan melihat secara detail seperti apa rumah Sherlock (yang sebenarnya merupakan replika rumah Sir Arthur Conan Doyle di tempat yang lain). Ada beberapa spot lokasi shooting juga yang bisa dikunjungi namun menurut saya terlalu common (misalnya rumah Irene Adler yang ada di Eaton Square). Sherlock Holmes museum ini unik dan menawarkan cinderamata khas Sherlock. Dan ketika Anda menapaki tangga 221B Baker Street serasa sedang berada dalam salah satu novelnya dan memeluk Mas Cumberbatch (okey, stop fantasi berlebih..). Oiya, salah satu tips datang ke museum ini adalah datang pagi-pagi karena antriannya luar biasa panjang mengularnya. Minimal antri 1 jam dengan ticket masuk sebesar 15 pounds. Jadi siap-siap encok.
Untuk pecinta Harry Potter bisa berkunjung ke studio Warner Bross (biayanya sekitar 50 pounds termasuk train ticket dari London karena lokasinya tidak di London persis) atau sekedar berfoto di King Cross Station platform 9 3/4 yang very famous itu. Untuk film yang lain silahkan google sendiri, namun saya juga berkunjung ke Portobello Market karena selain merupakan vintage market (yang merupakan salah satu favorit saya setiap berkunjung ke sebuah tempat) juga merupakan tempat shooting film NotingHill yang dibintangi eyang Hugh Grant tercinta dan jeung Julia Roberts.
Ekspektasi kunjungan Anda ke London: set mindset Anda bahwa London merupakan kota yang mahal!!! Bawa uang sebanyak mungkin karena poundsterling sungguh luar biasa cepat menggerogoti kantong Anda. Makan sandwich+minum paling murah di Sainsburry Local/Mark&Spencer/Tesco dengan meal deals mulai dari 3 hingga 5 pounds. Bisa juga beli menu fast food seperti McD/Burger King starts from 9 pounds. Untuk tempat makan standard lainnya, siapkan diri merogoh kocek 13-15 pounds untuk 1 meal. London juga merupakan kota yang sibuk, tidak hanya penduduknya tapi juga turisnya sehingga jalanan penuh dengan banyak sekali orang dan siap-siap antri di beberapa atraksi. Be strong dan jangan lupa minum tolak angin serta bawa koyo cabe (muka serius).
3. Venice, Italy
Jangan lewatkan kesempatan pergi ke Venice. Iya, kota yang isinya air sama sampan semua itu. Apa bedanya sama sungai Kapuas? Duh..please deh, nggak saatnya banding-bandingin sama negeri sendiri. Culture-nya jelas beda dong, trus harga naik sampan (atau disebut gondola) mahal banget sampe pengen nangis (siapkan 100 Euro for 30 minutes trip, nangis khan???).
Well, lalu kemana aja kalau ke Venice? Patut diingat bahwa Venice terdiri dari beberapa pulau kecil. Venice sendiri merupakan bagian dari mainland yang bisa ditempuh menggunakan bus. Setibanya di Venice Bus Station (Pale Roma), Anda bisa lanjut jalan kaki. Jalan kaki? Iya, ngga ada kendaraan cyin disini. Semacam Gili Trawangan gitu yang free vehicle. Sebrangi satu tempat ke tempat yang lain, jembatan yang satu ke jembatan yang lain. Berlebih duit? Bisa kok naik water ferry dari 1 port ke port yang lain tapi tentunya banyak spot yang tidak bisa dijangkau ferry.

Karena waktu itu lokasi hostel saya ada di bagian lain Venice alias bukan di mainland-nya, saya terpaksa beli water ferry ticket(sambil pengen nangis). Baru sekali ini saya beli day ticket yang mahalnya naudzubillah. Biasanya hanya kisaran 5-8 Euro per day, di sini 20 Euro doong.. Gile bener dah. Tapi gimana lagi? Masak iya saya mau renang?
Mainland Venice sendiri punya banyak sekali spot yang indah termasuk gereja, museum, pertokoan yang unik. Semuanya bisa dijelajahi dalam 1-2 hari. Tapi salah satu favorit saya justru ada di Burano dan Murano, dua pulau kecil yang ada sekitar 30 menit dari mainland. Untungnya day trip ticket water ferry juga bisa digunakan untuk trip ke Burano dan Murano jadi nggak rugi-rugi banget secara tempatnya lumayan jauh (dan saya jelas nggak kuat renang kesana). Dua pulau ini memiliki kanal-kanal kecil, tidak sebesar mainland Venice namun nuansa pulaunya berbeda dengan bangunan yang berwarna-warni, gelas kaca indah buatan penduduk lokal, pizza shop dan kain tenun yang lucu-lucu. Untuk saya, menghirup udara sebuah tempat yang baru selalu memberikan nuansa andrenalin tersendiri dan bikin saya deg-degan nggak ilang-ilang 🙂
Nikmati sunrise dan sunset di Venice. Bisa membayangkan matahari yang besar dan indah itu terpantul di perairan Venice? Nggak bisa? Then you missed one of the beautiful heaven on earth 🙂
4. Edinburgh, UK
Another city in UK? Bleh.. apa bedanya sama London? Bukannya sama-sama aja? Jelas beda dong, Edinburgh merupakan ibukota Scotland dengan culture Celtic yang kental. Jadi ketika berkunjung kemari, saya menemukan banyak relasinya dengan Ireland, another Celtic place yang isinya batu-batu disusun but somehow very beautiful. What I love from Edinburgh is the city itself. Kotanya kecil dengan nuansa bebatuan dan atmosfer yang entahlah, memabukkan. Rasanya ingin duduk berlama-lama di satu sudut sambil memandangi lalu lalang orang (asal tidak hujan). Banyak sekali spot menarik, mulai dari Chrismast Marketnya (the best christmast market so far I’ve ever seen), Edinburgh Castle, Arthurs Seat (tidak direkomendasikan bagi Anda yang jarang olahraga karena ngos-ngosan banget plus anginnya kenceng), dan tentunya beragam museum yang gratis. Anda juga bisa berkunjung ke House of Parliament Scotlandia di sini yang free entrance dengan penjelasan detail mengenai sejarah dan sistem demokrasi di sini (termasuk arsitekturnya juga btw).

Another Harry Potter lover? Well, it is a good news that you come to Edinburgh because of, guess what? JK Rowling originally was from here and she’s living here as well during the writing of HP and until now. Jadi bisa banget berkunjung k the Elephant’s House (cafe tempat nongkrongnya JKR waktu nulis HP) dengan pemandangan kuburan (iya kuburan) tempat inspirasinya dimana terdapat kuburan Dumbledore, Tom Riddle, McGonagal dan juga sekolah privat yang merupakan inspirasiny Hogwarts.
Tiap sudut jalanan Edinburgh sangat cantik sehingga tidak ada spesifik spot favorite. Just get lost inside the city and you will find how it surprises you!
5. Oxford, UK
Inggris lagi? Yah, namanya list ini memang sangat subjektif berdasarkan kota yang paling saya nikmati selama traveling. Saya suka dengan kota kecil, tenang dan jauh dari hingar bingar. Oxford menjadi salah satu kota favorit saya. Tujuan utama saya kemari memang hanya menyambangi University of Oxford yang terkenal itu. Apalagi Harry Potter sempat mengambil beberapa scene di kota ini. Tapi overall, kota ini sangat saya banget. Bangunannya tua, dengan jalanan kecil yang menyenangkan untuk ditelusuri, orang-orang tipikal Inggris tua yang berjalan normal (tidak seburu-buru orang London), banyak kampus, museum dan perpustakaan yang bisa dikunjungi, coffee shop yang lucu di ruas-ruas jalan Oxford. Saya bermimpi-mimpi untuk bisa bersekolah di sini sehingga tidak hanya kampusnya yang bisa saya nikmati namun juga suasana kotanya yang tenang bisa membuat hidup saya jauh dari kegalauan *yaelaaaahh…*
6. Amsterdam, Netherland
Saya sedikit tidak beruntung saat tiba di Amsterdam dikarenakan hujan badai sedang menyambangi kota cantik ini. Namun jelas tidak diragukan, saat hujan badai pun kota ini terlihat sangat cantik. Apalagi yang membuatnya unik? Kota yang dikelilingi kanal-kanal cantik ini sangat menjanjikan bagi Anda yang menikmati berjalan kaki ataupun bersepeda. Tak heran kota ini djuluki kota sepeda, saya lihat sepeda menjadi salah satu kendaraan yang merajai di kota ini. Tidak hanya sepeda biasa, namun sepeda dengan bak di depan untuk membawa barang dan anak kecil juga normal ditemui di kota ini. Saya rasa tidak ada orang yang tidak punya sepeda di kota ini, bahkan beberapa memiliki lebih dari 1 sepeda.
Well, apa yang bisa dikunjungi di Amsterdam? Deretan museum tentu masuk dalam list saya mulai dari Rijksmuseum hingga rumah persembunyian Anne Frank sangat menarik untuk dikunjungi. Bagi Anda pecinta arsitektur dan lanskap, jangan lupa berkunjung ke The Jordan yang merupakan area ‘kota lama’ dari Amsterdam.

Berjalan-jalan di kota Amsterdam, Anda akan menemukan sesuatu yang unik yaitu baunya yang khas. Yak, sayapun pertama curiga dengan ‘bau’ ini ternyata sesuai dugaan saya itu adalah bau ‘weed’ alias ganja alias Cannabis Sativa. Jangan heran karena sejak tahun 2012, ganja dihalalkan di kota ini. Anda yang berminat bisa mendatangi semacam coffee house untuk menikmatinya. Bagi Anda yang tidak suka, baunya sungguh membuat kepala saya melayang-layang selama berjalan di kota ini saking banyaknya orang yang entah kenapa juga merasa cukup normal menikmatinya di pinggiran jalan Amsterdam. Selain ganja, salah satu hal yang cukup mencolok di Amsterdam adalah sex bisnis, mulai dari sex toys, museum hingga sex house tersebar di daerah Red Light District dan sekitarnya. Waktu itu karena memang saya hanya traveling sendirian saya yang penasaran akan Red Light District berjalan-jalan santai sendirian di sana. Tidak seperti gang doli di Surabaya atau area Pasar Kembang di Yogya, Red Light District jauh dari kata seram menurut saya bahkan sudah seperti area wisata karena kita bisa hanya datang melihat-lihat dan jalanannya juga jauh dari kesan seram. Well, saya kurang menikmati pemandangan di jendela-jendela kaca di sana yang cukup vulgar dengan wanita yang ummmm…gitu deeh…tapi buat yang penasaran tidak ada salahnya 🙂
Oiya, jangan lupa berkunjung ke sebuah district bernama Zandaam, sekitar 15 menit dengan menggunakan kereta dari Amsterdam karena Anda bisa menikmati kincir angin tertua di Belanda. Zandaam jauh dari hingar bingar kota Amsterdam dengan suasana pedesaan yang tenang. Setelah berpusing ria dengan ‘ganja dan sex’ di Amsterdam, Zandaam menjadi area yang tepat untuk mendinginkan kepala 🙂

7. Lisbon, Portugal
Ada apa di Lisbon? Itu pertanyaan pertama ketika saya akan berangkat kesana. Tidak ada insight sama sekali mengenai kota ini kecuali beberapa arahan dari teman saya, Catarina, mengenai kota ini. Surprise!!! Kota yang sudah eksis 2000 tahun sebelum masehi ini unik banget dan instantly kesan pertama yang saya tangkap adalah kota ini tua banget. Entah mengapa saya merasa cukup familiar dengan suasana Lisbon, beberapa sudut, suasana dan tipikal orang Lisbon mengingatkan saya akan Indonesia yang warna-warni, terkesan sumpek dan ramai. But other than that, saya betul-betul terpana dengan arsitekturalnya yang berwarna dengan konturnya yang naik turun karena kota ini didirikan di atas 7 buah bukit (pantesan kaki saya berkonde sepulang dari sana). Untuk museum, saya sangat merekomendasikan Monasterios dos Jeronimos yang sebenarnya adalah makam dan juga chapel untuk orang penting Portugal, termasuk Vasco Da Gama, dengan bentuk bangunan yang sangat cantik dengan detail ukiran yang menawan. Alfama, si kota tua di atas bukit, juga wajib dikunjungi. Anda bisa menggunakan tram kota Lsbon yang sudah terlihat tua tapi masih kuat mendaki perbukitan dengan daily ticket 6 Euro saja untuk pergi ke Alfama. Alfama menawarkan pemandangan kota Lisbon dari atas bukit dengan beberapa spot yang bisa dituju seperti Sao Jorge Castle atau bisa juga sekedar duduk di cafe yang menghadap ke pemandangan kota Lisbon sambil menikmati pasteis dan kopi.
Berbicara tentang pasteis, rasanya tidak lengkap bila Anda tidak menikmati makanan manis khas Lisbon ini. Anda bisa dengan mudah membelinya di berbagai toko di Lisbon, namun ada satu pasteis yang sangat terkenal di sini yakni Pasteis de Belem yang lokasinya persis di samping Monasterios dos Jeronimos. Nikmati juga suasana tokonya yang sudah tua dengan pelayan ala Lisbon yang cekatan di sini. Bagi pecinta kuliner, jangan lupa berkunjung ke The Market di Mercado de Ribeira. Selain bisa membeli fresh vegetable or fruit dari penjual lokal, Anda juga bisa memilih berbagai menu masakan khas Lisbon maupun internasional di sini. Datang sebelum jam makan siang untuk memastikan Anda mendapatkan tempat duduk yang layak 🙂

8. Madrid, Spain
Madrid is definitely the city for history and museum lover. Yes, indeed. Kota ini menawarkan arsitektural sejarah yang mencengangkan dan juga puluhan museumnya yang indah (dan gratis! Penting banget buat mahasiswa kere semacam saya). Spanyol dikenal akan kedigdayaannya di samudera sejak abad ke-15. Tak heran mereka memiliki latar belakang sejarah yang sangat kuat dan dengan mudah Anda bisa melihat kekayaan yang mereka miliki sisa dari jaman kejayaan tersebut di kotanya. Untuk museum, saya sangat merekomendasikan Museo Nacional del Prado yang memiliki ratusan koleksi lukisan yang sangat melankolis. Saya sengaja datang ke museum ini di jam gratis, yaitu jam 5 sore setiap harinya. Ketika datang jam 4 tepat, ternyata sudah ada puluhan orang mengantri dan saya menghabiskan sekitar 70 menit berikutnya kedinginan dalam antrian. But it was worth all the wait! Tentunya kalau mau praktis tinggal datang atau beli tiket via online seharga 14 Euro untuk masuk ke dalamnya (kalau kata teman saya: jangan kayak orang kere! Well, I am 🙂 )
Bagi pecinta istana indah (seperti saya, mungkin efek kebanyakan nonton Cinderella waktu masih bayi), Royal Palace of Madrid juga menjadi salah satu objek wajib kunjung. Daaan..sekali lagi, antriannya naudzubilah panjang dan mengular. Setelah antri sekita satu jam saya berhasil masuk ke istana ini. Oiya, karena status saya yang student saya mendapatkan diskon 50% sehingga hanya harus membayar 6 Euro saja (nggak rugi lah, walaupun di Paris saya berhasil masuk Istana Versailles gratis berbekal student card). So, jangan remehkan the power of student card karena banyak sekali diskon untuk museum, belanja hingga transportasi. Oiya, so far istana ini yang paling mewah menurut saya dan dijaga dengan sangat baik sehingga karpet dan gordennya yang masih asli terlihat sangat terawat.
Madrid juga memiliki taman-taman yang luas dan indah seperti Parque del Retiro misalnya. Jangan lupa bawa bekal makanan, minuman dan snack serta novel ringan untuk dinikmati sembari duduk manis di tengah hangatnya kota Madrid 🙂

Well, so far, ini merupakan 8 kota favorit saya di Eropa. Tentunya belum komplit reviewnya sebelum saya berhasil berkunjung ke 28 negara di Eropa yang menjadi target kunjung berikutnya (doakan saya diberi kesehatan, kesempatan dan rejeki untuk menjajakinya). Eropa memang sangat indah. Saya berkali-kali menarik nafas panjang seakan tidak percaya bahwa SAYA SEDANG DI EROPA tapi itulah faktanya. Menariknya, ternyata di balik kesulitan berkunjung ke Eropa termasuk mendapatkan visa bagi kita bangsa Indonesia, ternyata jalan-jalan di Eropa sangat mudah dan sangat tidak menakutkan. So, buat kamu yang masih penasaran segeralah menabung dan datang ke Eropa atau ajukan proposal belajar siapa tau ada yang berminat mensponsori kamu datang ke sana 🙂
“Here I am, safely returned over those peaks from a journey far more beautiful and strange than anything I had hoped for or imagined – how is it that this safe return brings such regret?” – Peter Mathiesson

Leave a comment